Confession.
by Mirna Trissa
Ini pengakuan saya tentang
seseorang. I love this guy. Sudah lama, tapi semakin kesini saya semakin
sayang. Saya senang mendengarkan ceritanya mengenai idealisme, kuliah, tugas
bahkan hadiah ulang tahun dari gadis yang disukainya. Saya selalu tersenyum
melihatnya berjalan dari kejauhan untuk menemui saya, bagaimana dia dikirim
Tuhan sebagai pertolongan terakhir ketika tidak ada yang bisa membantu saya di
sini. Saya tidak keberatan terlambat makan siang hingga 3 jam karena menunggu
dia selesai bermain futsal lalu menggagalkan rencana makan siang bersama saya.
Saya tidak sampai hati membalas kekecewaan saya ketika dia membatalkan janji
pergi kami 15 menit sebelum waktu dia harus menjemput saya karena kesibukannya. Saya menikmati duduk disebelahnya tanpa melakukan apa-apa. Saya menyukai
semangatnya menunjukkan buku-buku yang baru dia beli. Saya selalu ingin
membelikannya baju, sepatu atau hal lain yang saya bisa.
Belakangan saya membayangkan,
ketika nanti kami memiliki hidup masing-masing, masih maukah dia membagi cerita
tentang kesibukannya, buku-bukunya, idealismenya? Masih bisakah saya memintanya
datang ketika saya merasa tidak ada lagi orang yang bisa saya mintai tolong?
Masih adakah waktunya untuk duduk berdua bersama saya tanpa melakukan apa-apa? Saya
menyayanginya, sungguh. Tetapi saya tidak akan keberatan kehilangan semua yang
biasa saya dapatkan darinya asalkan dia menjalani hidup yang berarti, dengan
orang-orang yang dia sayang dan menyayanginya layaknya saya, bapak dan ibu.
Namanya? Ahmad Rijensa Akbar.

Mir kamu jadi adikku aja gimana?
BalasHapus