Bapak.
by Mirna Trissa
Seminggu terakhir ini bapak sering sekali menelpon saya. Sederhana yang ditanyakan, "Lagi dimana?" atau "Sedang apa, Nak?" dan yang paling sering "Sudah makan kan, Nak?". Saya jadi sedih. Saya sedih karena memikirkan bahwa ternyata bapak sedang ditengah pekerjaannya saat menelpon saya, atau memastikan saya sudah makan ketika bapak masih menunda makan siang karena kesibukannya. Mungkin bapak kangen. Pasti bapak kangen. Salah, bapak selalu kangen.
Kalau saya ingat-ingat lagi, intensitas bapak menghubungi saya semakin sering ketika saya memberi tahu bahwa tahun ini saya tidak bisa berlebaran di rumah karen harus menjalani KKN di Maluku sana. Pertama kali saya memberi tahu, bapak hanya berkata, "Kenapa di sana? Jauh ya..." Mungkin bapak khawatir, Pasti bapak khawatir. Salah, bapak selalu khawatir.
Saya baru menyadari, seharusnya saya lebih sering mengubungi bapak. Seharusnya saya lebih sering memperhatikan kesehatan bapak, bukan sebaliknya. Ibu sering bercerita bahwa bapak seringkali mengeluh apabila ibu memberikan izin saya untuk pergi jauh atau pergi dalam waktu lama, bahkan bapak lebih terlihat khawatir daripada ibu. Tapi saya kurang peka akan hal itu. Saya hanya memikirkan kesenangan perjalanan yang akan saya nikmati, bukan perasaan orang yang menyayangi saya. Ah, bapak...
Rapat KKN malam ini berakhir terlalu malam, padahal saya ingin menelpon. Pasti Bapak sudah tidur. Semoga Tuhan menghilangkan segala lelah bapak hari ini. Semoga esok bapak bangun lebih sehat dari sebelumnya. Semoga....semoga semua doa saya untuk bapak dan ibu selalu didengar dan dikabulkan Tuhan. Amin.
