Confession.



Ini pengakuan saya tentang seseorang. I love this guy. Sudah lama, tapi semakin kesini saya semakin sayang. Saya senang mendengarkan ceritanya mengenai idealisme, kuliah, tugas bahkan hadiah ulang tahun dari gadis yang disukainya. Saya selalu tersenyum melihatnya berjalan dari kejauhan untuk menemui saya, bagaimana dia dikirim Tuhan sebagai pertolongan terakhir ketika tidak ada yang bisa membantu saya di sini. Saya tidak keberatan terlambat makan siang hingga 3 jam karena menunggu dia selesai bermain futsal lalu menggagalkan rencana makan siang bersama saya. Saya tidak sampai hati membalas kekecewaan saya ketika dia membatalkan janji pergi kami 15 menit sebelum waktu dia harus menjemput saya karena kesibukannya. Saya menikmati duduk disebelahnya tanpa melakukan apa-apa. Saya menyukai semangatnya menunjukkan buku-buku yang baru dia beli. Saya selalu ingin membelikannya baju, sepatu atau hal lain yang saya bisa.

Belakangan saya membayangkan, ketika nanti kami memiliki hidup masing-masing, masih maukah dia membagi cerita tentang kesibukannya, buku-bukunya, idealismenya? Masih bisakah saya memintanya datang ketika saya merasa tidak ada lagi orang yang bisa saya mintai tolong? Masih adakah waktunya untuk duduk berdua bersama saya tanpa melakukan apa-apa? Saya menyayanginya, sungguh. Tetapi saya tidak akan keberatan kehilangan semua yang biasa saya dapatkan darinya asalkan dia menjalani hidup yang berarti, dengan orang-orang yang dia sayang dan menyayanginya layaknya saya, bapak dan ibu.


Namanya? Ahmad Rijensa Akbar.