Kembang Api.

Hi everyone, selamat tahun baru 2014!


Malam tahun baru kemarin saya habiskan dengan nonton drama korea di kosan. Bukan, bukan karena saya jomblo, tapi karena di akhir tahun 2013 kemarin saya jadi sering mikir apa perayaan tahun baru bisa mempengaruhi kehidupan kita di tahun yang baru itu, misalnya kalo ngerayain tahun baru gede-gedean bakal bikin kehidupan di tahun itu jadi sukses dan sebaliknya. Oke, mungkin ini memang terlihat seperti pembelaan diri karena dari teman-teman saya yang mulai banyak mengganti status facebooknya dengan "in relationship" sehingga rencana tahun baruan yang biasanya ada jadi menghilang begitu saja dan akhirnya saya ga punya rencana apa-apa selain menikmati diri sendiri sambil membayangkan kalo pas di pergantian tahun nanti ada Yoo Yun Suk -salah satu aktor ganteng di drama yang saya tonton- datang dan bilang "Happy New Year, Mirna".

Baiklah, lupakan khayalan bodoh saya tadi. Ketika pergantian tahun, jam 00.30, saat kembang api masih mewarnai langit Jogja (walaupun saya ga tertarik melihat keluar), yang terjadi adalah saya sedikit dibuat terdiam setelah mendengar bunyi darderdor berkelanjutan yang saya anggap menggangu. Entah karena apa, saya jadi sedikit flashback ke beberapa bulan terakhir. Saya baru sadar kalo belakangan ini saya jadi orang yang nyinyir. Seringkali mengkritik, mengomentari, memandang miring, menyindir terlalu banyak hal kecil tanpa melakukan tindakan apapun. Bertindak seolah pengecut yang hanya bisa ngomong dibelakang. Saya juga jadi lebih sering berprasangka buruk sama orang lain, jarang melibatkan hati saya untuk menilai sesuatu. Ketika yang sebenarnya berkebalikan dengan yang saya prasangka, cuma malu yang saya punya.

Saya jadi bingung, apa yang bikin saya jadi seperti itu. Bukaannya saya ingin bilang bahwa sebelumnya saya tidak pernah bersikap seperti di atas, tapi belakangan ini sikap itu makin menjadi-jadi. Coba saya analisis kemungkinan yang ada.
Apa karena lingkungan? Oke, seburuk apapun lingkungan saya, kalo saya bisa memfilternya dengan baik saya tidak perlu terpengaruh kan? Toh saya manusia bebas yang mengaku dewasa sehingga harusnya bisa memilih mana yang harus diikuti dan mana yang tidak.
Apa karena bawaan gen? Tunggu, apa saya mulai menyalahkan kedua orang tua, nenek moyang dan leluhur saya yang bisa jadi mewariskan segala sesuatu yang ada dalam diri saya? Tuh kan, saya bersikap gini lagi. Menyalahkan orang lain.
Kemungkinan terakhir adalah karena diri saya sendiri. Saya yang semakin tua ini (saya menginjak 20 tahun, bukan teenager lagi), dengan semakin banyaknya orang yang saya temui mungkin belum bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ada sehingga saya jadi gemar kritik tanpa alasan jelas, mungkin saya juga belum bisa menerima kekurangan sendiri sehingga apa yang orang lain lakukan saya nilai salah karena saya tidak memiliki, mungkin saya masih berjenis manusia pecundang yang hanya bisa ngomongin orang dibelakang karena kalo di depan takut menyakiti (blah, alasan apa ini) atau memang hobi (jangan sampe), mungkin juga saya, saya sudah terlalu kompleks untuk dijelaskan.

"Kalau segala sesuatu terlihat salah, mungkin yang salah matanya." Potongan kata itu asli makjleb banget buat saya. Mata saya salah, cara berpikir saya salah, cara bertindak saya salah. Saya memang harus berbenah, setidaknya seperti kembang api, walaupun bunyinya mengganggu bagi mereka yang ga punya acara tahun baru, tapi warna dan cahayanya masih bisa dinikmati bagi yang mau.