Sembilan Puluh Menit vs Tujuh Bulan
by Mirna Trissa
Sembilan puluh menit itu, sebentar. Sama rasanya seperti pas ulangan fisika. Tapi yang ini, saya gak bisa nyontek siapa-siapa waktu nggak tahu harus melakukan apa.
Malam ini, sembilan puluh menit yang saya benar-benar nikmati. Menyenangkan, sekaligus tidak biasa. Ketegangannya sama seperti saat ulangan fisika. Namun, nggak pake keringat dingin.
Yang ada dihadapan saya, jauh lebih bisa dinikmati daripada guru fisika saya. Dan saya memang menunggu untuk bertemu dengannya.
Selanjutnya, saya tidak lagi punya waktu empat jam seminggu untuk bertemu dengan subjek yang sama. Saya perlu menunggu paling tidak sekitar sembilan puluh hari untuk menikmatinya lagi.
Sembilan puluh menit untuk persiapan sembilan puluh hari dan untuk membayar 286 hari yang sudah lalu.
Saya ingin pinjam mesin waktu. Mengulanginya, atau segera berangkat menuju sembilan puluh hari yang akan datang.
Tapi yang pasti, saya harus sudah terlebih dulu sampai ke pulau yang menjadi tujuan utama saya. mengalahkan gelombang tinggi dan hujan badai.
Semoga Allah memberikan saya kemudahan mengalahkan gelombang dan memberikan kesempatan lebih dari sembilan puluh menit saat sembilan puluh hari sudah saya lewati.
Amiiin :)
